Sengaja memang beta menulis tulisan
ini. Beta percaya tulisan ini akan menuai banyak kritikan atau semacam ejekan
dari pembaca terhadap beta. Perkenalkan, beta bukanlah seorang pengamat,
penulis ulung, bukan pula sebagai mahasiswa aktivis yang tajam pikirannya dan
jago mengkritik atas semua masalah social. Beta hanya mahasiswa biasa yang juga
sebagai pemuda. Serius ini.
Dasar beta menulis tulisan ini adalah
ketika membaca berbagai macam artikel dengan tema ‘mahasiswa’. Weh, banyak
sekali yang mengurai secara history maupun sudut pandang dinamika gerakan
mahasiswa dari awal pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, peralihan dari
rezim orde lama ke orde baru, reformasi, sampe sekarang ini. Heroik memang.
Mahasiswa, dipandang sebagai agen control social, agen perubahan hingga
tombak penentu bangsa, katanya begitu. Tapi hampir disetiap tulisan yang beta baca,
ado sio mama sayang e, tidak sedikit pula yang selalu memberi stereotype hingga
mencaci mahasiswa sekarang ini. Mahasiswa sekarang dianggap pragmatis lah,
oportunis lah, hedonis e, sampe-sampe dicap tidak pernah faduli terhadap persoalan kerakyatan. Ini yang membuat beta
pe hati sedikit kecewa.
Sungguh beta sedikit menyesalkan hal
itu. Mereka para penulis ini, seolah-olah selalu menganggap diri sebagai mahasiswa
yang so paling hero e, yang tara punya dosa apa-apa. Seakan-akan mereka itu so punya prestasi gemilang dalam gerakan social. Atau mungkin saja mereka
ini tergolong mahasiswa atau kelompok pergerakan yang sudah memperjuangkan
banyak hal. Kalau memang benar, maka mereka tergolong basis intelektual progresif
yang patut diakui eksistensinya. Puji Tuhan.
Lalu, dengan eksistensinya, tampil dan
dengan apik nyoyoke (ngomel) —
laiknya super hero yang tahu betul macam-macam teori deng cara menyelesaikan
berbagai macam persoalan sosial. Sayangnya, mereka selalu berprasangka buruk dengan
stereotype pada mahasiswa lain yang menurut penglihatan mereka tidak kritis, pragmatis,
hedonis dan lain sebagainya. Sungguh ini !
Dalam beta punya pengamatan, tidak
hanya di tulisan, seringkali beta temukan tipe mahasiswa pengkritik yang bisa
dibilang aktif dalam berorganisasi, baik intra maupun ekstra. Terus tampil
berdiskusi di warung-warung kopi, beradu teori sampai mengkritisi berbagai
masalah sosial. Dengan pace pe gaya khas, penampilan selalu urakan, pakai jeans
sobeknya dan mengaggap diri mahasiswa aktivis sejati. Pace yang ini paling suka
menghakimi mahasiswa lain, karena menganggap diri aktivis, yang lain dicap
sebagai mahasiswa hedonis, pragmatis dan berbagai macam lainnya. Ado sio mama
sayang e
Beta bukannya anti pada mereka. Tapi
kenapa selalu mengecam mahasiswa sekarang dengan stereotype itu e. Pada abad
sekarang ini e, banyak sekali
gerakan-gerakan sosial baru. Dengan berbagai macam metode pergerakan, mereka
mengabdikan diri, peduli dan memperjuangkan persoalan kerakyatan.
Kadang kitorang saja kurang tahu,
padahal sesungguhnya banyak dari mereka yang paling peduli dan mempunyai
sumbangsi besar melalui kegiatan-kegiatan sosial dengan komunitas sosial dan
project sosialnya. Ya diantaranya membangun rumah baca, belajar dan berbagi
bersama anak marginal, melakukan pemberdayaan masyarakat dan macam-macam
project sosialnya. Sebagai contoh, beta punya teman-teman Aksi Indonesia Muda
yang memberdayakan masyarakat marjinal di Kota Makassar,Sokola Kaki Langit
Makassar yang memfasilitasi pendidikan di daerah terpencil, Rumah Bahari
Gemilang yang melakukan ekspedisi pendidikan di pulau-pulau di Sulawesi Tengah,
Komunitas Dinding di Manado yang membuat sokola alternative bagi anak pasar, Literasi
Jalanan di Ternate, Klinik Jalanan di Samarinda, Rumpin BangJo pasar Johar
Semarang dan masih banyak lainnya. Pace mace penggagas dan pegiat gerakan-gerakan
diatas ini adalah anak muda yang rata-rata mahasiswa.
Anak sayang e. Lalu, ko masih terus
mencaci dan berprasangka buruk tentang mahasiswa sekarang ?, Ayo lah sodara,
sekali-sekali mari kitorang mengapresiasi dengan menulis dan membicarakan
tentang kisah-kisah inspiratif gerakan mereka. Siapa tau jadi inspirasi bagi
yang lain.
Beta masih percaya bahwa di negeri ini
masih banyak mahasiswa yang memiliki sense of
crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi
di sekitar kitorang saat ini. Buktinya banyak to pace deng mace mahasiswa yang
membentuk komunitas-komunitas sosial seperti diatas.
Beta
taru hormat dan sangat mengapresisasi semangat pace dan mace mahasiswa yang
terus mengabdi dan berkontribusi kepada masyarakat walau mengorbankan banyak
hal.
Untuk
bikin sebuah perubahan dan ikut menyelesaikan persoalan kerakyatan, tidak harus
kitorang turun kejalanan berdemo dan membakar ban. Pada jaman kontemporer ini, banyak
sekali metode dan cara-cara memperjuangkan masyarakat tertindas. Salah satunya
dengan cara yang pace-pace dan mace-mace mahasiswa lakukan diatas.
Diakhir
tulisan ini, beta mengajak dengan segenap hati, mari kawan, kitorang ini
mahasiswa, seperti apa yang beta punya tete Pram bilang “Seorang terpelajar
harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”.
Salam
hormat dari Maluku Utara eee.
Sign up here with your email
2 komentar
Write komentarah..pace itu ko ka...
ReplyIya ini sa.
ReplyConversionConversion EmoticonEmoticon