Sebuah catatan lapangan
Adlun
Fiqri
Sabtu sore diawal maret. Sejak dua hari kemarin, pamflet dan broadcast SMS sudah kusebarkan hingga di
media social. Perpus Jalanan kembali ngelapak, dengan konsep yang sedikit
berbeda. Sebagai tempat kumpul anak jalanan untuk membaca dan berkreasi, Perpus
Jalanan juga tempat untuk anak muda yang ingin terlibat dan peduli terhadap
isu-isu perkotaan.
Dari Rumah Komunitas, saya dan seorang kawan, Supriyadi namanya, memacu motor legendaris
sambil membawa sebuah kardus besar berisi buku-buku dan baliho bekas..
Lampu pijar belum lagi menyala, langit mendung, hari sudah mulai
gelap, “semoga tidak hujan” gumamku dalam hati. Ikbal (13), Wahyu (10) dan
Wandi (8), mereka yang kutemui saat sampai di trotoart tikungan belakang mall –
lokasi dimana kami biasa menggelar Perpus Jalanan.
Ketiganya selain ngamen di
Belakang Mall, kesehariannya sering jualan kantong plastic di pasar. Wahyu
bersekolah kelas 6 SD, sedangkan dua kawannya sudah putus sekolah. “Papa su pigi, mama me karja”. “papa belum
ada doi”, jawaban mereka ketika kutanya mengapa.
Sepuluh menit berlalu, lampu belum lagi menyala, gerombolan anak
lainnya datang. Seketika jadi rebut, namanya juga anak-anak kalau bertemu.
Suasana tampak seru, penih obrolan.
Segala aktifitas keseharian berlomba-lomba mereka ceritakan, ada yang
belum selesai bercerita, yang lainnya sudah memotong dengan ceritanya. Mulai
dari berjualan, mengamen, hingga jalan-jalan ke pasar malam pun semua
diceritakan.
Kardus buku yang awalnya kuletakan dibawah tenda untuk
mengantisipasi hujan, Ikbal, kusuruh mengambil dan membukanya untuk anak-anak. Serentak,
mereka berebut buku anak-anak yang aku bawah, sebagian besar adalah buku-buku
baru. Masing-masing memilih buku dan mulai membaca, walau ada beberapa yang
protes karena berebut buku yang sama. Beberapa tertawa-tertawa sambil
melihat-lihat gambar animasi lucu dalam buku.
Pukul 19.20, lampu merkuri pun menyala. Atas komando dariku,
dengan ceria penuh semangat, anak-anak membantu membentangkan boliho bekas
diatas trotoart, sambil menyusun buku-buku dengan rapih. Selesai. Satu per satu
lanjut membuka buku, ada pula yang sudah pergi mengamen.
Ya, suasana seperti inilah yang ada di Perpus Jalanan kami.
Tujuan dasar menggelar Perpus Jalanan ini adalaah memfasilitasi buku-buku
bacaan untuk anak-anak yang biasa main di jalanan, lebih khusus belakang mall.
Selain itu sebagai kampanye gerakan literasi,mengajak orang untuk gemar
membaca.
“Ini harga berapa ?” ucap seorang ibu sambil menunjukan sebuah
novel yang dipilihnya dari tadi.
Aku pun menunjukan papan bertulis “Baca Buku Gratis” sembari
menjelaskan bahwa buku-buku yang kami gelar disini sepenuhnya gratis untuk
dibaca bagi siapa saja bahkan dipinjam pun dibolehkan tanpa syarat apapun.
Si Ibu yang mengaku berasal dari pulau seberang ini mengaku
ingin meminjam buku tersebut, walau katanya belum akan pergi ke Ternate dalam
waktu dekat ini. Saya katakan, buku-buku ini bias dipinjam sampai kapan dan
dimana pun tidak apa, asalkan dibaca dan dirawat dengan baik, urusan kembalinya
terserah kapan.
Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa meninggalkan nama, si
Ibu langsung pergi meninggalkan kami dan berjanji akan mengembalikan buku ini
dengan menitipkan pada seorang kawannya.
Bukan tanpa alasan kami meminjamkan secara gratis buku-buku ini.
Berawal dari keprihatinan kurangnya fasilitas bahan bacaan dalam lingkungan
masyarakat, perpustakaan yang hanya tersedia di sekolah dan perguruan tinggi
sehingga sulit dijangkau masyarakat umum, hingga perpustakaan umum milik
pemerintah kota yang letaknya tidak strategis dan dibuka ketika jam kantor
saja, ditambah harga
buku-buku di toko yang melangit.
Begitupula dalam system peminjaman buku, kami ingin menciptakan
sesuatu yang beda dari perpustakaan yang ada. Tanpa meninggalkan nama tetap
kami pinjamkanan. Oleh karena itu kami sangat menghargai minat baca masyarakat
yang ingin meminjam buku, karena “Gerakan Membaca”
merupakan suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari
itu, sebagai visi pencerdasan bangsa.
*****
Gerimis datang. Ah, sedikit aku sedikit cemas, baru saja sejam
lebih menggelar buku kok hujan. Bukan tidak bersyukur atas nimat tuhan,tapi
hujannya ditunda boleh bias kan. Hehehe. Dalam hati doa terus kupanjatkan. Gerimis
sirna.
Lanjut bersama anak-anak yang terus memilah lembar per lembar
buku. Para pengunjung belakang mall terus menerus mondar-mandir masuk ke
warung-warung makan. Ada yang hanya sekedar melihat-lihat aktivitas kami. Ada pula
yang memilah-milah buku dan pergi lagi.
Sekitar 20 menit kemudian, hujan mengguyur. Bersama kawan dibantu
anak-anak, bergegas mengumpulkan dan meletakan kembali buku-buku dalam dus lalu
kami amankan di tempat berteduh.
Cukup sampai disini #PerpusJalanan kami malam ini dan kami
kembali sabtu malam minggu depan. Semoga kita semua tetap semangat untuk
berbagi dan senantiasa membangun dan menyebarkan budaya membaca ditengah
masyarakat. ***
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon