Tanggal 7-17 Februari 2015
Tanggal 7 februari saya dan bung Abe berangkat dari
Ternate ke Desa Banemo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah. Jam
10 pagi menumpangi KM. Nur Amin kami bertolak dari pelabuhan bastiong ternate. Melewati
gugusan pulau-pulau di sepanjang selatan halmahera. Di sekitar kepulauan bacan
matahari pun mulai redup, senja pun tiba. Sambil menikmati segelas kopi susu
dari ABK Kapal kami menikmati senja diatas kapal. Setelah matahari terbenam
,malam pun tiba. Tak ada cahaya bulan malamini, hanya cahaya bintang yang
bertaburan diatas langit. Bunyi mesin, angin dan ombak berkomposisi menjadi
alunan nada menghantarkan tidur kami.
Tanggal 8 sekitar pukul 7.30 saya terbangun dari tidur
karena silau cahaya sinar matahari pagi yang muncul. Saya pun melihat ke GPS
ternyata kami hampir sampai. Jam 9.30 kapal tiba di desa banemo, kapal berlabuh
di lepas pantai karena belum ada jembatan atau pelabuhan kapal. Tak berselang
lama, 2 perahu pun menuju ke kapal untuk mengantarkan penumpang lainnya yang
mau berangkat dan menjembput yang tiba. Kami pun menumpangi perahu menuju
pantai desa Banemo. Disana kami sudah dijemput oleh kawan bung Hikmat dan
mengantarkan kami ke rumahnya. Selama di Banemo kami menginap dirumah bung Hikmat.
Siang sekitar jam 11 kami pun bertemu dengan bung
Iswadi dan Irawan yang merupakan kordinator aliansi peduli patani barat, kami
membicarakan seputar investasi sawit oleh PT. Manggala Rimba Sejati yang akan
menguasai sekitar 11.870ha hutan mereka. Namun investasi iini mendapat
penolakan keras oleh seluruh warga Banemo karena investasi ini masuk dalam
areal perkebunan pala milik warga yang sudah dikelolah secara turun-temurun dan
sudah puluhan tahun telah menghidupi mereka.
Komunitas pnu banemo ini dibagi atas 3 desa adminiistrativ,
yaitu desa Bobane Indah, Banemo dan Bubane jaya. Ketiga desa ini masuk pada
kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
******
Hari Kedua Tanggal 9, saya, abe dan bersama
kawan-kawan dari aliansi peduli patani barat, bung hikmat, irawan dan bung
iswadi mengadakan pertemuan dengan para tokoh-tokoh masyarakat membahas
mengenai maksud dan tujuan pemetaan partisipatif ini, kemudian sejarah dan batas-batas wilayah adat komunitas
pnu banemo. Pada saat itu juga kami membentuk tim yang mengetahui batas wilayah
untuk diikutsertakan dalam tim survey nanti.
Dalam pertemuan itu kami juga membahas batas-batas
wilayah banemo, disebelah timur batasnya di sift, barat batasnya di plikpop,
utara di longul dan selatan di gunung damuli.
Tanggal 10
Pagi dan siang aktivitas seperti biasa. Malamnya Saya,
Abe, bung Iswadi, Irawan dan Himat duduk mendengarkan cerita sejarah dari Om
Jaka, beliau adalah pemerintah desa yang sangat aktiv dan berpartisipatif
mengikuti pemetaan partisipatif wilayah adat mereka. Malam itu om jaka
menceritakan mengenai asal-usul moyang mereka.
“dulu ada 3 orang yang datang, mereka berasal
dari tempat yang berbeda, yaitu satu dari Selayar, satu dari Potons (sekarang
Patani) dan satunya lagi dari Waci (Maba). Yang dari Waci namanya Siswai,
Patani namanya Dode dan ia juga biasa dipanggil Wlon (kepala kampung). Pada
saat itu mereka hidup masih nomaden atau berpindah-pindah tempat. Awalnya
mereka tinggal di Pnu Bono, kemudian pindah ke pnu filawas (sekarang tanjung
Remdi) lalu pindah lagi di sebuah sungai besar yang namanya bobane
(tempat/sekarang menjadi banemo). Mereka kemudian mulai menetap disitu sampai
sekarang ini. Sumber air mereka berasal dari woyo rabi, konon katanya disini
juga tempat persembunyian mereka ketika terjadi serangan belanda.” Cerita Om Jaka.
“di Banemo pada tahun 1942 ada seorang Ustad
yang bernama Abdullah dari Makeang bersama paman om Jaka, mereka membangun
sebuah Sekolah Madrasah. Sekolah ini bertujuan untuk mengajarkan pendidikan
agama Islam kepada Masyarakat Banemo. Berselang beberapa tahun Belanda pun
mendirikan Sekolah Rakyat (SR).” lanjutnya.
Om Jaka juga bercerita bahwa dulu ada seorang yang
dikirim dari Arab, dia biasa dipanggil Habib Marwahe. Habib Marwahe adalah
seorang guru mengaji yang tinggal di botlol, perbatasan Dote dengan Banemo.
Habib Marhawe juga dengan ilmu-ilmu gaibnya biasa mencegat para misionaris yang
akan menyebarkan ajaran kristen di banemo.
Panjang bercerita sambil meminum kopi tak terasa waktu
menunjukan pukul 12.30 dan kami pun beristirahat.
Foto lokakarya/doc.AMAN
|
Simulasi
pengambilan titik kordinat/doc.AMAN
|
Keesokan harinya tanggal 11 februari. Kami melakukan
lokakarya pemetaan partisipatif yang diikuti sekitar 10 orang warga banemo.
Dalam lokakarya pada sesi pertama yang difasilitasi oleh bung Abe yang juga
kepala Unit Kegiatan Pelayanan Pemetaan Partisipatif (UKP3 AMAN Malut). Membahas
mengenai fungsi dan tujuan dari pemetaan partisipatif, ciri ciri peta wilayah
adat dan fungsinya. Pada sesi kedua saya diguaskan untuk memfasilitasi membahas
mengenai global position system (GPS), kelebihan dan kekurangannya, cara
menggunakan dan cara pengambilan titik kordinat. Kemudian kami langsung membagi
dua tim untuk melakukan simulasi penggunaan GPS dan pengambilan titik kordinat.
Setelah itu kami pun istirahat.
Tanggal 12
Pagi itu saya, Bung Abe, bung Hikmat dan bung Iswadi
kami menyiapkan undangan untuk mengadakan pertemuan dengan masyarakat dalam
rangka mensosialisasikan kegiatan pemetaan. Pagi itu juga kami merinci
kebutuhan logistik untuk survey nanti. Rencananya pertemuan ini digelar nanti
malam jam 8 di kantor desa bubane jaya.
Setelah makan siang, saya dan Abe diajak jalan
keliling kampung oleh bung Iswadi. Kami sempat mampir di tempat pengepul pala
milik saudaranya bung iswadi. Kami pun berbincang-bincang mengenai pala
dengannya. Dia menuturkan bahwa dalam sebulan pendapatan masyarakat banemo jika
dikalkulasi secara keseluruhan kurang lebih 500juta perbulan dan itu diluar
dari panen raya. Kami pun sengaja menyinggung soal investasi perusahan sawit,
beliau secara spontan mengatakan menolak investasi tersebut. “torang masyarakat disini 90% menolak
investasi tersebut karena menurut torang investasi tersebut akan merugikan
masyarakat karena sebagian besar masyarakat adalah petani pala, kemudian dengan
pala ini lah torang bisa hidup deng puluhan tahun ni.” Katanya.
“Kemudian pala
ini sudah menjadi identitas kami sebagai masyarakat banemo, jadi jikalau
pemerintah tetap ngotot memasukan sawit berarti itu secara langsung membunuh
keberlangsungan hidup kami dan menghilangkan budaya kami” tambah bung Iswadi. Setelah panjang membahas paladan sawit, saya abe dan
bung iswadi kembali ke rumah untuk persiapan pertemuan malam nanti.
Malamnya sekitar jam 8, saya abe bung iswadi, om jaka,
bung hikmat dan bung irawan langsung menuju lokasi pertemuan. Sampai disana
kami lagsung beres-beres menyusun kursi dan meja dan memasang lampu. Satu dua
orang masyarakat mulai berdatangan. Namun sebelum pertemuan saya terpaksa harus
balik ke rumah karena kondisi saya yang tidak fit karena demam dan flu. Jadi
yang mengadakan sosialisasi ini oleh bung abe dan kawan-kawan dari aliansi
peduli patani barat.
Keesokan harinya, tanggal 13. Pagi aktivitas seperti
biasa, bangun cuci muka dan sarapan pagi dengan teh dan pisang goreng. Pagi
sampai siang saya dan abe menunggu
kawan-kawan yang ikut dalam tim untuk brefing dan mempersiapkan logistik, namun
belum ada yang muncul, mungkin karena mereka masih sibuk dengan pekerjaan
dirumah masing-masing.
Sekitar jam 4 sore, saya mengajak Abe untuk
jalan-jalan. Kami mampir ke rumahnya om Jaka, nampaknya om Jaka baru bangun
tistirahat karena selesai bekerja. Kami lantas duduk dan mengobrol di atas
talud dipinggir pantai yang juga dibelakang rumah om jaka. Disana kami sempat
mengobrol dengan beberapa warga juga.
Sekitar jam 6 saya dan Abe balik ke rumah untuk mandi.
selesai mandi ksmi langsung menyiapkan logistik. Beberapa warga yang akan
terlibat survey pun datang, ada yang menyumbangkan beras, sagu, gula dan kopi.
Om jaka pun datang membawa 2 kg beras. Kepala desa bobane indah pun
menyumbangkan 1 dos mieinstant. Setelah
semua persiapan logistik telah terkumpul, sambil bercerita mengenai teknis
lapangan besok. Bung iswadi karena tidak bisa ikut survey, ia akan melakukan
pengambilan titik didalam kampung saja. Sekitar jam 12, kami pun istirahat. Malam itu juga istri dari bung Hikmat dan Om Jaka
membuat mafu-mafu untuk bekal kami
nanti.
Tanggal 14,
survey hari pertama.
Pagi itu kami siap-siap, setelah selesai sarapan kami
mengecek semua perlengkapan dan logistik.
Kami yang tergabung dalam 1 tim berjumlah 11 orang. Setelah mengecek
semua telah siap, jam 9.40 kami menumpangi mobil pick up langsung menuju titik
pertama yaitu plikpop. Setelah sampai kami pun turun dan mengambil titik
kordinat, disini merupakan batas pertama di pinggiran pantai. Setelah itu
perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melewati jalan ex perusahan kayu
menuju titik selanjutnya. Setelah sekitar 1 jam berjalan kaki di medan
Proses pengambilan titik pertama di plikpop/doc.AMAN
|
Tim sedang istirahat
dan makan siang di sungai moriala/doc.AMAN
|
yang menanjak sampailah kami di gunung Rahmat yang
merupakan batas wilayah banemo dengan moriala. Setelah mengambil titik kordinat
kami istirahat sambil meminum air kelapa muda. Sekitar 15 menit istirahat kami
melanjutkan ke titik selanjutnya, kali ini kami tidak lagi melewati jalan gusur
tapi melewati jalan kebun. Hampir jam 12 kami pun tiba di sungai moriala dan
istirahat untuk makan siang. Di tempat kami makan ini merupakan pertigaan
aliran sungai. Siang ini menu makan kami adalah mafu-mafu perbekalan dari rumah
tadi.
Om jaka
dengan kordinat sungai kilima/ doc.AMAN
|
Sesudah istirahat dan makan siang kami pun melanjutkan
perjalanan menuju Gunung Tagalaya. Kami berjalan mengikuti aliran sungai dan
itu merupakan batas alam antara banemo dan moriala. Sampai kami pada pertemuan
sungai moriala dan sungai kilima yang juga merupakan batas alam banemo. Kami
pun mengambil titik kordinat di tempat itu dan sejenak istirahat lalu
melanjutkan kembali perjalanan.
Setelah 4 jam perjalanan naik turun gunung dan
melewati medan yang terjal, sampailah kami di gunung tagalaya dan menurut gps
jarak kami sekarang 17 km dari titik pertama di plikpop. Perjalanan yang memang
luar biasa menguras tenaga. Karena hari sudah sore kami pu sepakat untuk
beristirahat sesudah mengambil titik kordinat. kami pun langsung turun ke
sungai yang mengalir di kaki tagalaya, di tepi sungai kami pun langsung
membangun tenda dan befak. Beberapa kawan langsung membuat api untuk memasak
air dan masak nasi, kawan lainnya selain mendirikan tenda juga mencari udang di
sungai.
Hari mulai gelap, sambil menikmati kopi kami menunggu
nasi matang, saya kemudian mencatat dan memferivikasi ulang titik-titik
kordinat yang diambil hari ini. Alhasil setelah sekian lama menunggu akhirnya
makan malam kami dihidangkan. Walau dengan menu sederhana nasi mie kuah+udang
cukup mengisi perut kami yang lapar. Sesudah makan kami pun istirahat, ada yang
langsung tidur ada juga yang asik bercerita dan mengatur rencana untuk jalur
yang akan ditempuh besok. Karena saya sangat capek saya pun langsung tidur walau
hanya beralaskan daun-daun. Malam ini suhu tidak terlalu dingin.
Sekitar jam 4 subuh saya pun terbangun dan tidak bisa
tidur lagi, yang lain masih tertidur pulas karena kecapean satu hari
perjalanan.
Sekitar jam enam hari mulai terang, pagi ini kicauan
burung dimana mana menyambut terang. Yang lain pun sudah mulai bangun, ada yang
langsung membuat api dan memasak kopi.
Setelah itu kami semua beres-beres membongkar tenda
dan menyiapkan barang-barang,sebelum melanjutkan perjalanan kami sarapan nasi
dan mie lagi.
Sekitar jam 9 kami langsung melanjutkan perjalanan ke
gunung damuli untuk mengambil titik kordinat selanjutnya.
Pohon pala hutan/
doc.AMAN
|
Perjalanan kali ini juga melewati medan yang terjal,
banyak medan yang menanjak. Dalam perjalanan kami menemukan beberapa pohon pala
hutan. Kami menyempatkan untuk berfoto dibawah pohon.
Setelah berfoto kami istirahat sejenak, dan selesai
istirahat langsung melanjutkan perjalanan.
Sekitar jam 11.30 kami sampai di gunung damuli dan
langsung menuju ke sebuah kubur keramat yang ada disitu. Kami pun langsung
membersihkan tempat itu dan mengambil titik kordinat disitu.
Foto
bersama kubur di gunung damuli/ doc.AMAN
|
Setelah itu kami langsung beristirahat dan memasak
untuk makan siang. Seperti biasa menu makan kami tetap nasi mie+udang. Sesudah
makan kami pun istirahat sekitar 1 jam dan langsung melanjutkan perjalanan ke
titik berikut.
Kali ini kami berjalan diurat gunung, perjalanan
sungguh harus ekstra hati-hati karena kiri kanan jurang.
Sekitar jam 3 kami sampai di Yoli, disini merupakan
batas wilayah antara banemo dengan piniti. Kami punmengambil satu titikkordinat
disitu. Setekah istirahat sejenak kami pun melanjutkan
perjalanan selanjutnya, dalam perjalanana karena hari sudah sore kami pun
istirahat dan membangun tenda di tepi sungai midolafi. Seperti biasa sore itu ada yang membuat api dan
memasak air, ada juga yang pergi mencari udang, ada yang mandi dan ganti
pakaian.
Makan malam kami seperti biasa nasi mie+udang. Setelah
makan malam, bung sufrin dan temannya, salah satu warga yang ikut dalam tim kembali
mencari udang di sungai. Sambil menunggu mereka kami saling cerita-cerita.
Berselang satu jam bung sufrin dan seorang temannya
kembali membawa banyak sekali udang dan 5 ekor belut. Malam itu kami makan double. karena persediaan bumbu sudah habis, udang pun hany
direbus dan belut hanya di fufu atau
diasapi untuk persiapan sarapan pagi. Kami melewati malam panjang hanya dengan makan udang
rebus dan menikmati kopi.
Sekitar jam 12 karena semua sudah ngantu dan capek,
kami pun bersitirahat. Pada jam 4 saya terbangun, suhu malam ini sangat dingin
sampai-sampai saya sudah tidak mampu menahannya. Dan dinginnya hanya di bagian
kaki.
Paginya
setelah semua bangun, seperti biasa kami langsung membongkar tenda dan merapikan
barang-barang bawaaan. Sebelum berangkat ke titik selanjutnya kami pun sarapan
makan belut tang kami fufu atau asapi
semalam, karena tidak ada bumbu kamipun hanya memakannya dengan nasi dan garam.
Selesai
sarapan kami pun kembali melanjutkan perjalanan, waktu itu titik selanjutnya
kalau tidak salah namanya longul. Kami pun naik turun gunung lagi, sungguh
sangat capek waktu itu. Karena titik yang akan dituju sangat sulit medannya,
akhirnya kami menuju ke tempat yang medannya mudah terus mengambil titik dengan
kompas berapa derajatnya.
Waktu
itu hari sudah siang dan kami pun beristirahat di salah satu rumah kebun warga,
seperti biasa kami pun memakan nasi dan mie kuah. Setelah makan kami istirahat,
beberapa jam istirahat semua bersiap kembali melanjutkan perjalanan. Namun saya
dan abe harus keluar ke kampung duluan karena besoknya bung abe harus balik ke
Ternate, kami tidak mengikuti tim karena takut akan terlambat keluar nantinya.
Akhirnya kami berdua dibawa oleh seorang warga pulang duluan melewati jalan lain.
Sedangkan yang lain melanjutkan ke titik terakhir untuk mengambil titik batas.
Setelah
lama berjalan, akhirnya saya dan bung abe pun sampai di kampung, kami langsung
mandi dan istirahat. Sekitar jam 9 malam, ternyata yang lain pun muncul mereka
sudah berhasil mengambil titik terakhir. Malam itu saya pun merekap ulang semua
data-data titik kordinat, setelah itu kami pun bersiap-siap karena besok pagi
kami kembali ke Ternate.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon