Aldi, Jualan Mainan untuk Hidupi Keluarga

Di malam itu, seorang pria berjalan di kawasan pusat kuliner belakang jatiland mall. Ia mengenakan kaos oblong lusuh dan celana pendek tipis. Dikakinya mencepit sebuah sendal tipis yang sudah lama tergesek aspal, dikepalanya bertengger sebuah topi yang juga lusuh termakan usia. Di tangan pria itu memegang puluhan ikatan balon mainan anak kecil, sesekali ia membunyikan mainan untuk menarik perhatian anak-anak kecil.
Dari tangannya tersebut lah Aldi menyambungkan hidupnya. Menjual mainan anak-anak adalah mata pencahrian pria asal Sanana ini.
Per buah balon itu dibandrol Rp.5000, sehari Ia bisa menghasilkan paling banyak 100 ribu. “ya Alhamdulillah, ini laku deng tarada me syukur banya juga” kata pria berkepala tiga tersebut, “kadang tara laku me alhamdulillah syukur juga” lanjutnya sambil menghisap sebatang rokok. Dengan uang inilah dia menghidupi anak dan istrinya.
Aldi mengaku merantau ke ternate pada tahun 2001 menumpangi kapal dari kampung halamannya. Pria asal kepulauan Sula ini pun awal ketika sampai di Ternate sehari-hari bekerja sebagai buruh gerobak di pelabuhan dan pasar-pasar. Selama hampir satu tahun dua bulan, dia pun berganti pekerjaan menjadi seorang penjual koran selama sembilan bulan. Ceritanya sambil duduk beristirahat disebuah bangku.
Ketika ditanya mengapa merantau ke Ternate, Aldi menjawab karena dikampung setelah ditinggal mati sang ibu tercinta, dia putus sekolah dan menganggur, ingin berkebun tapi tidak punya tanah. Akhirnya aldi memutuskan pergi ke Ternate bermodalkan nekat untuk mencari hidup.
Setelah sembilan bulan menjual koran, dengan keuntungannya di jadikan sebagai modal untuk menjual mainan anak-anak. Sehari-hari dia keliling pasar-pasar dan tempat-tempat ramai untuk berjualan.
Di sela-sela harus melayani pembeli, Aldi lanjut bercerita bahwa setelah 2 tahun berjualan mainan, dia kemudian menikah dan dikaruniai 4 orang anak namun beberapa tahun kemudian mereka berpisah, ucapnya pilu, dia pun tidak cerita mengenai alasan mereka bercerai. Setelah ditinggal sang istri pertama, aldi kemudian menikah lagi dan sampai sekarang dikaruniai 3 orang anak.
Sambil memegang dan merapikan barang jualannya saat ditemui di kawasan belakang mall, ia juga bercerita “dulu tuh saya pernah baburu pikul 10 karong bawang, tapi karong yang basar tu. Baru saya sandiri, eampong waktu itu saya so tara poha da sampe amper mo jatong di aer. Saya pulang dirumah tu saya pe bini manangis lia pe saya, saya pe lala tu sampe 3 hari waktu itu”.
Inilah sepenggal cerita salah satu dari sekian banyak kisah orang pinggiran yang harus merantau karena tidak mempunyai alat produksi berupa tanah, dia harus terlempar dari ruang hidupnya di kampung dan dikota dia` gigih bekerja tanpa malu walaupun hanya sebagai penjual mainan anak-anak.




Previous
Next Post »